|
|
Posting lagi akh….
Sebenernya waktu nulis ini di rumah sedang mati listrik, alhamdulillah masih ada genset yang bisa diandalkan. Tapi tetep aja bete mikirin PLN nggak punya nurani, secara ini kan malam Nifsu Sya’ban! Kasian liat warga di kampungku yang udah rame ngumpul di mesjid, makanya tadi selama lebih kurang 3 jam aku harus merelakan terang yang kupunyai dengan meminjamkan genset untuk dipakai di mesjid (hitung2 beramal… ^_^).
Back to topic, baru-baru ini aku punya pengalaman menyebalkan dengan Trikomsel (Service Centre Sony Ericsson) di Jl. Letkol Iskandar/ seberang JM Pasaraya, Palembang. Alkisah, belum genap setahun yang lalu suami membeli Soner K850i, tetapi karena suatu dan lain hal akhirnya hape tersebut ia jual ke salah seorang karyawan kami di luar kota. Apesnya baru beberapa bulan pakai karyawan kami (sebut saja ”S”) melaporkan bahwa hape tersebut displaynya mati total dan minta bantuan agar hape diservis karena masih dalam masa garansi. Atas perintah suamiku salah seorang karyawan lainnya kemudian membawa hape tersebut untuk diperbaiki di Trikomsel.
Dua bulan berlalu tanpa ada kabar sekalipun dari Trikomsel mengenai nasib hape tersebut, mungkin karena bukan hape milik sendiri aku dan suami jadi tidak aware. Sampai kemudian ”S” mengirimkan sms menanyakan nasib hapenya barulah suami action mencoba menghubungi Trikomsel by phone ke 314873. Sangat disayangkan berkali-kali nomor tersebut dihubungi dari pagi sampai siang tidak ada satu panggilan pun yang diangkat oleh Trikomsel. Sore harinya suami berinisiatif mendatangi langsung Trikomsel dan mendapat jawaban hape masih dalam proses perbaikan di Jakarta.
Di bulan ke-3, ”S” kembali mempertanyakan hapenya. Entah kenapa sms ”S” kali ini menyulut emosiku, antara sebel karena merasa direpotkan oleh ”S” dan berang dengan penanganan Trikomsel yang kuanggap sangat lemot. Emosiku makin memuncak karena nomor telpon 314873 lagi-lagi tidak ada yang mengangkat. Sore itu juga kuajak suami mendatangai Trikomsel, dalam hati aku sudah menyiapkan jurus ancaman akan mempublikasikan case ini ke surat kabar bila hape masih juga belum siap servis.
Sesampai di Trikomsel kutemui 2 orang wanita yang duduk sebagai front office, kepada salah satu dari mereka aku menyerahkan nota service sambil menceritakan kekecewaanku dengan lambatnya penanganan servis mereka.
”Mbak, 3 bulan itu waktu yang sangat lama, masak belum selesai juga??!! Pokoknya kalau hape saya ini belum juga diselesaikan saya akan perkarakan sampai ke media!” ancamku.
Si wanita kemudian masuk ke dalam sambil menenteng nota milikku, cukup lama ia berada di dalam ruangan itu. Sambil menunggu iseng aku memperhatikan pesawat telpon yang ada di atas meja front office. Hey… u know what i saw? Kabel yang menghubungkan ke pesawat telpon putus!! (ato sengaja diputus??) Kepada wanita yang satu lagi aku melontarkan pertanyaan.
“Kalau pelanggan nelpon terhubungnya ke mana ya?” tanyaku.
Si wanita menjawab, “Ke telpon ini,” ujarnya sambil menunjuk pesawat telpon yang kumaksud.
Kembali aku bertanya, “Tapi kenapa ya kalau saya nelpon susahnya minta ampun?! Dari pagi sampe sore nggak ada yang ngangkat. Ini bener kan nomornya seperti tertera di nota tadi?”
“Iya. Kalo lagi banyak pelanggan telpon sengaja tidak kami angkat,” jawabnya.
“Ooh… pantesan. Makanya sengaja kabelnya diputus begini ya?” tanyaku telak.
Si wanita agak sedikit gelapan, dengan segera dia berpura-pura mencek kabel tersebut dan kemudian memasangkannya ke pesawat telpon. Dalam hati aku semakin ilfil dengan pelayanan Trikomsel yang amat sangat ancur, bukan hanya karena kelambanan kinerjanya tetapi juga sengaja memutuskan tali komunikasi dengan pelanggan.
Lebih dari 15 menit menunggu akhirnya salah seorang petugas pria mendatangiku sambil menenteng K850i dalam bungkusan kertas.
”Bu, maaf ya… hape ibu baru datang dari Jkt kemarin sore. Kalau ibu nggak percaya ibu bisa lihat nih tanggal receivenya, tuh kan tanggal kemarin.”
”Mas, mau selesai tanggal berapa pun yang penting komunikasinya dong. Selama 3 bulan itu saya tidak pernah dikabarin sampai di mana proses perbaikannya. Boro-boro kalian nelpon, saya yang nelpon aja nggak pernah ada yang ngangkat! Beneran lho, tadinya saya mau ekspos ke koran kalau sampai hari ini hape saya belom selesai juga,” jawabku dengan nada tinggi.
Si pria dengan santainya menjawab kalimatku, ”Laporin aja, bu… nggak masalah, sudah biasa kok kami dikomplen di koran.”
Gubrak… ! Lengkap sudah kebobrokan Trikomsel di mataku. Tanpa mau berdebat lebih lama, apalagi hape sudah di tangan, kuajak suami segera meninggalkan tempat itu. Malam harinya iseng aku browsing di Google dengan memasukkan key word ”Trikomsel Palembang”, penasaran pengen tau track recordnya. Dan ternyata, berderet keluhan pelanggan mirip dengan yang kualami berhasil kutemui. Bener-bener parah… !
Impactnya, beberapa hari yang lalu ketika aku hunting hendak membeli handphone jadi trauma gitu dengan Soner. Setiap kali aku melirik ke salah satu seri Soner suami mewarning, ”Ma, kalo rusak service centrenya Trikomsel lho…” Hehehe… aku jadi sadar, iya juga ya. Lebih baik beli hape merek lain yang servicenya mengutamakan pelanggan daripada service centre yang kerjanya bikin pelanggan naik darah.

Facebook
Twitter
Digg
Del.icio.us
Yahoo
Technorati
Newsvine
Googlize this
ada ko video camnya yg dibb gw, cuma YMnya ...

Komentar