|
|
Ada banyak cara Tuhan menyentil umatNya. Ketika ada pasien tak mampu diusir dari rumah sakit karena tidak bisa membayar, tiba-tiba Ponari muncul bak dewa penolong. Rumah Ponari sontak jadi ‘klinik’ yang tak pernah sepi pengunjung. Siang malam orang antre untuk untuk mendapat harap dari sepercik air yang telah dicelupi batu. Sindiran yang pas diberikan di mana negeri ini begitu konsumtif menilai segalanya melulu oleh uang kendati berdiri dengan nama edun, “Badan Sosial”.
Kali ini tentu berbeda dengan cerita Ponari karena khabar duka yang dihadirkan Tuhan lewat sentilanNya adalah sebuah ujian bernama musibah. Puluhan rumah diluluhlantakan oleh terjangan air Situ Gintung pada Jumat subuh kemarin.
Situ peninggalan Belanda yang kemudian hari menjadi tempat arena wisata dan rekreasi itu begitu perkasa menggulung ratusan rumah, menerjang perkampungan sekitar, mengibaskan kekuatan pohon yang semula berdiri kokoh bertumbangan dalam sekejap. Yang paling luar biasa air bah itu mampu menyapu nyawa manusia hingga seratus lebih dan korban yang hilang mencapai puluhan.
Duka mendalam dan rasa kehilangan terpancar jelas lewat air mata yang berurai pada diri si korban. Di layar kaca, hilir mudik disajikan bagaimana paska dahsyatnya bencana itu ditayangkan nyaris tiada jeda. Cerita tentang kehilangan dan kepergian anggota keluarga memang tak akan sembuh dalam sekejap. Masih terus membekas bahkan tak jarang meninggalkan trauma.
Lagi, paktor kelalaian manusia menjadi indikator musibah ini. Laporan warga bahwa tanggul ini akan jebol yang diperkuat oleh sebuah lembaga survei ternyata hanya dianggap angin lalu saja oleh instansi terkait. Nasi sudah menjadi bubur, sesuatu yang seharusnya tak terjadi akhirnya terjadi juga. Jika saja Pemerintah peka terhadap apa yang disuarakan rakyat, musibah ini bisa diminimalisir kendati harus terjadi dan tak akan menimbulkan banyak korban dan kerugian yang begitu besar.
Setiap kejadian selalu meninggalkan cerita beragam. Duka juga tak selamanya melulu air mata. Puluhan pencari barang bekas yang yang datang dari Jakarta, Bogor, Cianjur, Sukabumi bahkan Cirebon memenuhi tempat kejadian bencana. Mereka datang seadanya, hanya berbekal karung dan gancu.
Di atas derita dan derai air mata sesama umat Tuhan, sebagian umat lain justeru bisa mendapatkan sedikit rejeki dan bisa menyambung hidup. Kesulitan mencari barang bekas di tanah sendiri telah menjadikan lahan bencana tambang emas bagi mereka. Sesaat mereka bisa tersenyum lega meskipun datang dari sumber derita. Sungguh Tuhan Maha besar dengan kekuasaanNya karena dari duka sekalipun DIA tetap menyediakan kebahagiaan. Duka juga punya senyum…

Facebook
Twitter
Digg
Del.icio.us
Yahoo
Technorati
Newsvine
Googlize this
