|
|
Hari kemerdekaan memang sudah lewat, tapi kan bulannya masih Agustus gitu. Jadi ingin nulis tentang ritual agustusan yang setiap tahun menjadi bulan yang ditunggu untuk meneriakkan kata “MERDEKA” ditiap kesempatan. Trus yang mau ditulis apaan ya? Apa tentang lomba balap karung, makan krupuk, sendok dan kelereng, panjat pinang, ato lomba yang lain? Uda basi, klise banget nulis gituan.
Hapalkah isi Pancasila? Kalau hapal coba deh sebutkan satu-satu. Pernah nggak ditodong dengan pertanyaan seperti itu? Hati-hati kalau nggak hapal bisa-bisa anda dicap nggak nasionalis. Seseram itukah? Masih mending ngapalin Pancasila, nah kalau disuruh ngapalin Undang-Undang Dasar Tahun 45 yang terdiri dari 4 paragraf [betul nggak 4 paragraf]. Wah kalau salah saya nggak nasionalis dong. Kalau boleh kembali beberapa tahun ke belakang waktu saya masih MI yang setingkat SD, silahkan deh diadu. Dengan suara sangat lantang dan berani saya hapal dengan seluruh isi undang-undang. Begini-begini bekas pembaca UUD di tiap upacara hari Senin, serta peserta lomba membaca Undang-Undang 45 tanpa naskah yang cukup puas kalah tanpa juara. Satu alasan juri waktu itu “Hapal, lantang, tapi terlalu cepat. Gugup ya?”. Kalau sekarang disuruh menghapal, boro-boro deh. Masih hapalan lagu India puluhan judul.
Sekarang, kita para pemuda dicap nggak nasionalis hanya gara-gara nggak hapal gituan. Dicap nggak cinta negara kalau nggak tahu budaya sendiri. Gamelan, wayang, tarian tradisional, lagu daerah, dan lain-lain. Jujur saya lebih sedikit tahu budaya negara Jepang saking seringnya baca komik jepang, budaya Korea saking seringnya lihat serial drama Korea, lebih tahu lagi budaya India karena seringnya liat film Hindi. Kenapa kok bisa begitu? Satu jawabannya, karena saya nggak dikenalkan dengan budaya negeri sendiri. Tapi lebih kenal negara lain dari baca. Tapi kenapa orang-orang dengan tega mengumpat kepada kami para pemuda yang nggak tahu-menahu budaya negeri sendiri. Salah siapa? Kita apa generasi sebelum kita? Saya lebih paham lagu Inggris daripada nyanyian seorang Sinden yang bahasanya nggak ngerti dan ditelinga kedengarannya sangat gatal. Televisi jarang menayangkan hal-hal berbau budaya. Buku hanya formalitas tanpa ada aplikasi.
Terkadang iri sama negara maju tapi budaya masih tetap melekat kuat. Memakai batik hanya waktu ada acara tertentu. Beda dengan India, Jepang, Korea yang memakai pakaian tradisional untuk sehari-hari. Kita seperti negara yang tidak punya budaya. Jarang juga mendengar musik gamelan atau alat musik tradisional diselipkan di musik-musik modern. Tapi mendengar musik India masih kental dengan sitar, tabla dan musik tradisional lain meski genre musiknya Rock, RnB, Pop. Masih mendengar dentuman taiko Jepang disela-sela musik modern Jepang.
Pernah mendengar Aaron Taylor Kuffner? Dia membuat GamelaTron, yaitu koleksi instrumen musik milik Indonesia yang bernama gamelan. Kata Tron dari elektronik, karena alat tersebut dijalankan oleh lengan-lengan elektronik sebanyak 117 buah. Malu kalau melihat bangsa lain meriset secara serius budaya kita. Robot gamelan tersebut telah menggelar konser di berbagai negara. Kita baru akan mencak-mencak jika ada negara tetangga mencomot budaya kita. Hello sebelumnya kemana?
Jadi jangan salahkan kami kalau kami tidak hapal Pancasila, masak kemana-mana harus bawa buku PPKn. Jangan salahkan kami juga kalau tidak tahu budaya sendiri. Kalian yang harus disalahkan karena tidak memperkenalkan kepada kami. Coba sekarang kami ganti bertanya. Apakah kalian juga hapal?

Facebook
Twitter
Digg
Del.icio.us
Yahoo
Technorati
Newsvine
Googlize this
