|
|
Saya sempat ragu untuk membuka Pintunetter pada awalnya. Catatan kecil yang tersimpan di benak adalah tentang tampilan site ini yang lagi-lagi berubah. Sebuah pembenahan yang menuju ke arah kemajuan! Telisik dengan jeli, kendati terkesan jelimet saat login, karena berkali-kali ditolak, nikmatnya tetap terasa bahwa komunitas ini kian menemui keselarasan dalam bertindak dan tentu, "rumah kita" kian berwarna.
Lebaran, selalu saja diidentikkan dengan sesuatu yang serba baru. Baju baru, mobil baru, HP baru tapi kita juga kadang sering lupa bahwa fisik kitapun harus baru sebagai kepanjangantangan dari rohani yang baru tadi. Seyogyangnya memang demikian, disadari atau tidak keukeuh saja kita selalu merasa alfa. Bisa jadi karena fahala bisa dianggap barang ghaib alias tak terlihat. Maha Sempurna Tuhan...
Ketika gempa mengguncang dusun kami di Pangalengan dan sebagian besar di Jawa Barat bagian Selatan, rumah baru bagi warga adalah puluhan bahkan ratusan tenda. Anak-anak harus rela bertakbiran di bawah siraman lampu obor karena listrik rajin mati. Sebagian warga ada yang bertakbiran di dalam tenda. Kekhusyuan mereka tetap terjaga karena niat yang tulus untuk mengabdi kepada Sang Khalik.
Gempa yang terjadi bukanlah sebuah azab melainkan satu bahan renungan bahwasanya hidup harus semakin punya rasa rindu kepada Tuhan. Setiap detik adalah ruh, yang dihembuskan untuk mengingatNya melalui perbuatan baik. Ketika musibah datang, saat itu kami tentu memasuki persiapan untuk berbuka puasa. Masakan sederhana yang akan tersaji ketika takjil tiba menjadi berantakan karena ketel yang ditumpangi di atas gas 3 Kg ikut bergoyang lalu tertindih reruntuhan.
Kampung yang biasanya sunyi sontak padat oleh tangisan. Langit mendung, mendung oleh debu yang beterbangan dari ratusan puing yang runtuh oleh kekuatan getaran 7,5 skala rihter. Tanah seperti gulungan ombak yang berkejaran, dilibasnya semua bangunan di atasnya, nyaris tanpa daya untuk kembali bertahan...
Bangunan seharga 350 juta yang awalnya berdiri kokoh jadi hiasan dinding jalanan, simbol sebuah kedigdayaan juragan kentang dan menjadi kebanggaan hingga berani berjalan tegak, ambruk dalam hitungan detik. Si empunya hanya bisa menggeleng dengan kekuatan yang dipasilitasi oleh getaran tadi. Jika Tuhan sudah berkehendak, layu daun yang terseret angin bisa mampir di pundak kita!
Kenangan duka yang tak terlupakan, memang. Terimakasih buat kalian karena kalian pernah memberi senyum bagi warga kami...

Facebook
Twitter
Digg
Del.icio.us
Yahoo
Technorati
Newsvine
Googlize this

Komentar
mengenai ditolak berkali-kali.. maap deh...
Oh iya mohon banget klo nulis sesuatu tolong ditaruh pada seksi pintunetter dan kategori yang tepat.